img-post

gemakeadilan.com - September Hitam merupakan pengingat banyaknya peristiwa  kelam berupa pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di bulan September pada masa  silam. Rentetan peristiwa kelam tersebut dimulai dari Tragedi G30S/PKI, Tragedi  Tanjung Priok, hingga Peristiwa Salim Kancil 2015. Berangkat dari pandangan bahwa  pemerintah tak berniat serius dalam menyelesaikan pelanggaran-pelanggaran tersebut,  Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Diponegoro (BEM Undip) tidak tinggal diam 

untuk menyuarakan ketidakadilan. BEM Undip khususnya Bidang Sosial dan Politik  (SOSPOL) melakukan berbagai aksi dan kegiatan untuk mengingat peristiwa yang  terjadi pada bulan ini. Adapun kegiatan yang dilakukan BEM Undip antara lain: Perlombaan Puisi Dan Poster 

Perlombaan puisi dan poster ini dilaksanakan pada 5 September 2021 hingga 18  September 2021. Perlombaan ini tidak hanya diperuntukan mahasiswa Undip  saja, melainkan diperuntukkan bagi masyarakat umum. Kegiatan ini dijadikan  sebagai momentum untuk mengingat kembali kasus pelanggaran HAM yang  belum terselesaikan dan masih menjadi “PR” pemerintah. Dalam perlombaan  tersebut, SOSPOL BEM Undip bekerja sama dengan Bidang Seni dan Olahraga  (SENIORA) untuk menilai hasil karya peserta. Attaniya Almuna, Staf Muda  SOSPOL BEM Undip mengatakan bahwa, puisi dan poster ini dijadikan sebagai  suatu bentuk ekspresi kekecewaan terhadap lambatnya penanganan kasus HAM  di Indonesia. 

Perilisan Infografis  

SOSPOL BEM Undip membagikan beberapa infograris melalui laman instagram  BEM Undip. Infografis yang dibagikan antara lain bertemakan Tragedi Tanjung  Priok hingga Kasus Munir. Dari infografis tersebut yang menarik atensi publik  adalah infografis Kasus Munir yang diberi tajuk “Dibalik 17 Tahun Kasus  Pembunuhan Munir.” Postingan tersebut memiliki 10 slide dan berhasil  memperoleh lebih dari 1.200 likes. Infografis kasus munir tersebut sangat detail  dan runtut, mulai dari awal mula karir Munir, peristiwa pembunuhan dalam  pesawat, hingga persoalan janji Presiden Jokowi terkait penuntasan HAM.  Tujuan dari infografis ini untuk mengingat kembali pembunuhan Munir 17 tahun  silam yang tidak berhasil menyeret dalang pembunuhan sesungguhnya. 

Diskusi Bersama 

Kegiatan Diskusi Bersama dilaksanakan melalui fitur live kanal Instagram BEM  Undip yang mengambil judul “Menuji Daluwarsanya Kasus Munir, Bukti  Impunitas Kian Akut”. Diskusi ini dimoderatori oleh Attaniya Almuna dengan  menghadirkan Usman Hamid selaku Direktur Eksekutif Amnesty Internasional  Indonesia, Dhia Al-Uyun selaku Koordinator Kaukus Indonesia Kebebasan  Akademik, dan Fajar Dhika sebagai perwakilan Lembaga Bantuan Hukum  Semarang sebagai pembicara. Diskusi Bersama ini membahas mengenai  kedaluwarsa kasus Munir di tahun depan dan langkah-langkah yang harus  diambil pemerintah. 

Panggung Bebas 

Panggung Bebas dilaksanakan pada 18 September melalui kanal Official  Youtube BEM Undip. Pada kegiatan ini diisi dengan penampilan musik dan band,  musikalisasi puisi, dan awarding pemenang dari perlombaan poster dan puisi.  Dalam melaksanakan Panggung Bebas ini, SOSPOL BEM Undip menggandeng  SENIORA BEM Undip. Acara tersebut tidak hanya diperuntukan bagi masyarakat  Undip saja, melainkan dibuka pula untuk umum.  

Diskusi Publik September Hitam 

Diskusi Publik September Hitam mengambil judul “Jalan Terjal Penyelesaian  Kasus Pelanggaran HAM Berat Masa Lalu” yang diselenggarakan pada 27 

September 2021. Diskusi ini menghadirkan beberapa pembicara yakni Choirul  Anam selaku Komisioner Pemantauan/Penyidikan Komnas HAM, Maria C.  Sumarsih sebagai perwakilan keluarga korban Tragadi Semanggi II dan Taufik  Basari selaku Anggota Komisi III DPR RI serta Zainal Arifin sebagai perwakilan  Yayasan Lembaga Hukum Indonesia. Acara yang dimoderatori oleh Yusya  Ramansyah ini berjalan lancar dan berhasil menghidupkan diskusi dengan baik.  

BEM Undip tak hanya berfokus pada aksi dan pengkajiannya dalam universitas, namun  juga turut mengawal aksi dan kegiatan “Aksi Kamisan” yang diselenggarakan oleh  Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM) Jawa Tengah. GERAM melakukan Aksi  Kamisan untuk menagih janji pemerintah menuntaskan pelanggaran HAM berat di  Indonesia. Aksi Kamisan pada tahun ini membawa tajuk “Sore Bersama Munir” yang  dilakukan di Kota Lama Semarang, Kamis (9/9/2021) pukul 15.00 hingga 18.30.  Kegiatannya diisi dengan jalan-jalan memakai topeng Munir, penampilan musik dan  puisi, hingga pembagian petisi. Kamisan ini bertujuan untuk mengampanyekan kasus  Munir kepada masyarakat dan mengingat kembali kasus Munir 17 tahun silam yang diikuti oleh mahasiswa dari berbagai kampus di Semarang dan masyarakat umum.  Menurut Gusti Iqro Ibrahim, Kepala Divisi (Kadiv) Aksi, Media, dan Propaganda BEM  Undip, Aksi tersebut dilakukan karena pelanggaran HAM berat seperti contohnya kasus  Munir hingga kini belum dituntaskan. Terlebih menjelang setahun masa  kedaaluwarsanya pemerintah tak kunjung menuntaskan kasus ini. Mahasiswa  Semarang berharap kasus pelanggaran HAM bisa diusut tuntas dan tidak ada lagi  kasus pelanggaran HAM berat serupa.  

Penulis: Nilam Helga 

Editor: Adri Siregar 

Sumber Gambar: Instagram BEM Undip