Latest News

Pasar Papringan: Pasar Tradisional Ramah Lingkungan dengan Kearifan Lokal

admingk 2020-10-02 15:01:19 Opini

Perkembangan ilmu pengetahuan teknologi informasi dan komunikasi (IPTEK) semakin pesat serta menyeluruh di segala bidang, salah satunya di bidang ekonomi. Perkembangan tersebut menumbuhkan tren ekonomi kreatif, yaitu ide atau gagasan yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat dan meningkatkan daya saing industri melalui kemajuan teknologi. Pengembangan ekonomi kreatif salah satunya berupa wisata daerah yang berbasis local wisdom atau kearifan lokal. Wisata ini merupakan upaya pengembangan kearifan lokal daerah menjadi objek wisata yang menggerakkan ekonomi dan memberdayakan masyarakat daerah. Pasar Papringan yang merupakan salah satu wisata pasar tradisional yang berbasis kearifan lokal. Pasar ini terletak di Temanggung, tepatnya di Dusun Ngadiprono, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kedu. Pada awalnya Pasar Papringan ini berada di Dusun Kelingan, Desa Caruban Kecamatan Kandangan Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Pasar ini buka dua kali dalam satu bulan berdasarkan penanggalan Jawa, yaitu setiap Minggu Pon dan Minggu Wage serta beroperasi pukul 06.00 WIB – 12.00 WIB. Pasar Papringan awalnya merupakan program kerja Komunitas Spedagi yang diketuai oleh Pak Singgih S. Kartono dan Fransisca Calista sebagai manager Pasar Papringan yang diadakan sekali saja. Spedagi merupakan komunitas yang memiliki tujuan untuk revitalisasi desa dan membawa desa menemukan jati dirinya sebagi komunitas yang lestari dan mandiri. Dalam perkembangannya, Pasar Papringan menjadi wisata lokal bagi masyarakat Temanggung sendiri dan mulai dikenal luas oleh masyarakat dari luar kota. Ciri khas dari pasar ini letaknya yang berada di tengah-tengah kebun bambu yang sebelumnya berfungsi sebagai tempat pembuangan sampah desa yang kemudian di alih fungsikan menjadi pasar tradisional. Pengunjung yang datang dapat merasakan suasana desa dan udara sejuk di pagi hari. Selain tempatnya, sistem transaksi di Pasar Papringan menjadi salah satu keunikan juga. Dalam transaksi jual beli, pembeli harus menukarkan terlebih dahulu uang tunai mereka dengan pring dengan nominal Rp. 2000 per satu pring.. Tempat penukaran tersebut berada di pintu depan kedatangan. Harga makanan tradisional yang dijual cukup terjangkau sekitar satu sampai empat koin pring. Seperti pasar tradisional lainnya, Pasar Papringan juga menjual hasil bumi berupa sayuran dan buah-buahan juga menjual berbagai macam kerajinan tangan serta makanan tradisional seperti sagon enten-enten, bajingan, jenang lot, rondho kemul, ndas bhorok, citak, dan lain sebagainya. Salah satu manfaat dari adanya Pasar Papringan selain menjadi destinasi wisata, serta bagi kaum milenial dapat digunakan juga untuk mengetahui makanan tradisionalnya yang kemungkinan sudah jarang ditemui. Pasar Papringan juga menyediakan spot untuk berfoto bagi para pengunjung serta menyajikan kesenian gamelan. Pasar Papringan juga menerapkan konsep ramah lingkungan dimana setiap sudut pasar disediakan tempat sampah dan juga setiap makanan yang dibawa pulang menggunakan alas daun pisang bukan plastik. Penerapan konsep ramah lingkungan ini menjadi nilai tambah dari Pasar Papringan itu sendiri. Pengunjung juga dapat membeli keranjang anyaman bambu untuk membawa barang belanjaan. Melihat antusiasme pengunjung yang datang, sPasar Papringan telah menjadi salah satu ikon baru bagi Temanggung yang wajib untuk dikunjungi. Sehubungan dengan mewabahnya pandemi global Covid-19, berdasarkan postingan akun instagramnya Pasar Papringan libur pada Minggu Wage, 29 Maret 2020 sebagai langkah antisipasi dan kewaspadaan terhadap penularan Covid-19. Pasar Papringan dapat menjadi rekomendasi wisata kuliner bagi masyarakat baik dalam maupun luar kota tentunya setelah pandemi Covid-19 ini berakhir. Sumber: https://www.bekraf.go.id/berita/page/8/pasar-papringan-ikon-baru-kabupaten- temanggung Instagram: @pasarpapringan