img-post

gemakeadilan.com- Berakhir sudah rangkaian proses persidangan empat mahasiswa terdakwa kasus pengerusakan saat aksi Tolak Omnibus Law dengan dibacanya putusan akhir oleh majelis hakim yang berlangsung di Pengadilan Negeri Semarang , Selasa (8/6). Dalam amar putusan akhir, majelis hakim memutus bahwa keempat terdakwa terbukti bersalah

karena memenuhi unsur pidana pada Pasal 216 KUHP tentang tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya sehingga dijatuhi hukuman 3 bulan penjara dengan masa percobaan 6 bulan.

Menurut penjelasan penasihat hukum terdakwa, putusan yang dibacakan oleh majelis hakim memiliki pertimbangan yang cukup bagus, akan tetapi vonis yang dibacakan oleh hakim masih tidak memiliki rasa keadilan terhadap para mahasiswa tersebut. 

“Intinya itu putusannya, sebetulnya pertimbangannya lumayan bagus, tetapi vonisnya yang menurut kami masih tidak ada dikesampingkan rasa keadilan untuk para mahasiswa sebagai pejuang demokrasi,” ujar salah satu penasihat hukum terdakwa. 

Selain itu, salah satu orang tua terdakwa juga turut kecewa terhadap putusan majelis hakim. Pasalnya, mereka berpendapat bahwa anaknya tidak bersalah, ditambah lagi mereka sudah cukup lelah karena proses peradilan yang berbelit-belit. 

“Jadi apa boleh buatlah, yang penting anak kami sudah boleh pulang, sudah berkumpul dengan keluarga, selama 8 bulan anak kami tidak bisa pulang, kalau kami teruskan juga prosesnya akan panjang,” ucap orang tua tersebut.

Selama proses persidangan berlangsung, puluhan massa juga turut kembali melangsungkan aksi di luar gedung pengadilan. Aksi tersebut menampilkan berbagai macam penampilan dan diakhiri dengan mandi kembang dengan tujuan untuk mengusir

“roh jahat” yang ada di dalam pengadilan. Aksi mandi kembang tersebut dilakukan dengan menyiramkan air yang sudah diberi kembang kepada salah satu massa demonstran. Setelahnya, acara dilanjutkan dengan doa bersama sebagai wujud harapan pada pengadilan agar nantinya dalam memutuskan perkara yang serupa, tidak terjadi kembali hal yang dialami oleh empat mahasiswa tersebut.

 

Penulis: Leonard Marcel, Brian Nando, dan Bima Ginting

Editor: Muhammad Ridho